Penetrasi Asuransi Rendah, RI Kekurangan Tenaga Aktuaris

09 Sep 2015, 10:50

Nusa Dua -Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga kini jumlah tenaga aktuaris di Indonesia masih sangat minim, hanya 204 orang. Padahal, kebutuhannya mencapai 850 orang.

Rendahnya tenaga aktuaris ini membuat industri asuransi berkembang sangat lambat. Untuk itu, dibutuhkan banyak tenaga aktuaris untuk menunjang perkembangan industri asuransi ke depan.

Demikian dikatakan Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) I OJK, Edi Setiadi, di acara Seminar Internasional Industri Keuangan Non Bank (IKNB), di The Westin Resort Nusa Dua, Bali, Senin (7/9/2015).

"Data asosiasi, aktuaris ada 204, sangat sedikit, sementara permintaannya banyak, kebutuhan 850 aktuaris, aktuaris ini tenaga langka," ujarnya.

Kehadiran asuransi dan dana pensiun tidak akan berjalan cepat tanpa didukung kesiapan perguruan tinggi, untuk menyiapkan tenaga-tenaga aktuaris profesional.

"Bagaimana perguruan tinggi ingin menyediakan tenaga aktuaris sementara tidak ada pengajarnya, di Jepang hubungan baik antara perguruan tinggi dengan akademisi, di sini kita upayakan mendorong," katanya.

Menurut Edi, perguruan tinggi bersama pemerintah dan otoritas perlu berkoordinasi untuk bisa menciptakan ketersediaan tenaga aktuaris.

"Jadi ada program studi aktuaris, di DIKTI ada nomenklatur program aktuaris, beberapa perguruan tinggi sudah menyiapkan, jangan khawatir permintaan cukup banyak," sebut dia.

Edi menjelaskan, tenaga aktuaris tidak hanya dibutuhkan bagi lembaga asuransi jiwa saja, namun asuransi secara umum baik gempa bumi, kebakaran, dan lain-lain.

Fungsi tenaga aktuaris adalah memproyeksikan perkembangan industri asuransi ke depan tentang besaran premi yang harus dibayar, permasalahan, tantangan, dan bagaimana cara penyelesaian.

"Orang itu melihat seolah-olah aktuaris itu hanya dibutuhkan industri asuransi jiwa saja, padahal dia itu memproyeksikan jangka panjang, ada general insurance seperti gempa bumi, kebakaran, itu banyak tenaga aktuaris diperlukan di sana," terangnya.

Saat ini, lanjut Edi, minimnya tenaga aktuaris membuat industri asuransi sulit berkembang.

Ke depan, OJK berupaya membantu industri, mengkomunikasikan ke dirjen di kementerian-kementerian riset dan perguruan tinggi untuk ikut mengembangkan tenaga aktuaris ini.

"Perlu regulator turun tangan, kita akan buat surat ke rektor. Jadi, aktuaris sekarang ini seperti halnya 'sopir tembak' belum punya SIM tapi mengendarai, jadi hanya di sekitaran komplek saja, seharusnya bisa meluas, harusnya hitungnya bisa lebih baik kalau punya aktuaris, jadi sekadar jalan saja, susah berlari, apalagi akan menghadapi MEA, tetangga kita di Malaysia perguruan tinggi sudah mensupplai itu, Singapura juga," tandasnya.

Sumber: http://finance.detik.com/read/2015/09/08/140439/3013185/5/2/penetrasi-asuransi-rendah-ri-kekurangan-tenaga-aktuaris