Pengendara Ugal-ugalan, Klaim Asuransi Motor di Medan Capai Rp1,5 M

04 Oct 2016, 11:45

Perbandingan antara premi dan klaim atau rasio kerugian (lost rasio) pada kegiatan industri asuransi kendaraan bermotor (ranmor) di Medan tercatat mencapai hampir 150 persen. Nilai klaimnya per bulan sekitar Rp1,5 milyar. Kondisi itu disebabkan tingkat ketertiban berlalu lintas masyarakat di Medan yang terbilang sangat rendah. 

Hal tersebut dikatakan, salah satu  Kepala Cabang perusahaan asuransi yang berada di Medan, Fadil Syam, saat memberikan materi pada Media Gathering Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Nilai klaim untuk asuransi kendaraan bermotor di Medan bisa sampai Rp1,5 Miliar per bulan. Lost rasionya 150 persen. Salah satu penyebabnya adalah tertib lalu lintasnya agak kurang. Ini sudah terkenal bahkan sampai ke Jawa,” ujar Fadil.

Diutarakannya, ada istilah ‘Sopir Medan’ yang berkonotasi buruk terhadap cara berkendara orang Medan. Di Medan sendiri bisa dilihat, lampu merah dilanggar, lalu berkendara ugal-ugalan, dan sebagainya. “Klaim kita paling besar untuk asuransi kendaraan bermotor itu, karena kecelakaan. Kendaraan hancur. Kalau klaim karena hilang itu masih lebih sedikit,” tambahnya.

Selain faktor tertib lalu lintas, kondisi jalan di Medan juga membuat tingkat kerusakan kendaraan semakin tinggi. Lost rasio industri asuransi kendaraan bermotor juga diperparah dengan perilaku para nasabah asuransi kendaraan bermotor di Medan. “Di Medan ini, kalau lecet sedikit saja langsung klaim. Mereka mau mobilnya tetap kinclong. Padahal untuk satu lecetan, klaim yang harus dibayarkan itu sampai satu plat penuh. Setidaknya sekali klaim Rp500 Ribu. Kalau kita hitung-hitung, dengan premi mereka yang cuma tiga persen dari harga kendaraan, klaim yang dibayarkan itu jadi sangat tinggi,” sebut Fadil.

Dia melanjutkan, seperti untuk sebuah kendaraan minibus seharga Rp150 Juta-Rp200 Juta. Paling-paling preminya Rp6 Juta setahun. Tapi klaimnya bisa berulang-ulang selama setahun. Kondisi itu, sambung Fadil, membuat banyak perusahaan asuransi di Medan yang saat ini sudah tidak lagi mau menjual produk asuransi kendaraan bermotor. “Lost rasionya tinggi sekali, ini merugikan dan banyak kawan-kawan dari perusahaan lain, mulai meninggalkan produk ini,” cetusnya.

Sementara itu, secara nasional, kata Fadil, kondisi lost rasio pada kegiatan industri asuransi kendaraan bermotor masih cukup baik. Namun memang sedikit melambat seiring turunnya jumlah penjualan kendaraan pada tahun lalu. “Secara nasional masih baik, lost rasio kita yang tinggi disini, ditutupi oleh daerah lain yang juga masih baik,” tukasnya.

Fadli menegaskan, tingginya lost rasio pada kegiatan industri asuransi kendaraan bermotor di Medan ini, menggerus target perolehan premi mereka menurun. Mereka memutuskan untuk mengurangi penjualan polis asuransi kendaraan bermotor, guna menekan kerugian. “Itu karena kita mengurangi penjualan di asuransi kendaraan bermotor. Untuk itu, kita himbau masyarakat Medan untuk tertib berlalulintas, agar kegiatan industri ini (asuransi kendaraan bermotor) bisa tumbuh lagi. Kita juga ikut aktif melakukan sosialisasi tertib lalulintas,” pungkasnya.(fir/pojoksumut/sdf)

askrida | Sumber : sumut.pojoksatu.id/2016/09/28/pengendara-ugal-ugalan-klaim-asuransi-motor-di-medan-capai-rp15-m