Perlu Asuransi Antispasi Resiko Tanpa Terduga

23 Sep 2015, 11:45

JAKARTA (Pos Kota) – Perlu asuransi untuk mengantisipasi dan berjaga-jaga dari berbagai resiko yang mungkin terjadi tanpa diduga.

“Sangat penting memiliki asuransi untuk berjaga-jaga,” kata Adi Pramana, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Selasa (22/9).

Seperti kejadian jatuhnya crane di Masjidil Haram mengingatkan bahwa sesungguhnya risiko itu dapat terjadi kapan pun, di mana pun dan bisa menimpa kepada siapapun tanpa pandang bulu.

Calon jamaah haji Indonesia yang meninggal pada kecelakaan tersebut mendapat santunan dari perusahaan asuransi syariah, karena mereka beli produk asuransi jiwa dan kecelakaan diri untuk jamaah haji.

Produk asuransi memberikan perlindungan bagi jemaah haji dan petugas haji atas risiko meninggal dunia karena sakit atau kecelakaan serta risiko cacat tetap total dan sebagian.

Masa perlindungan asuransi berlaku sejak jemaah haji atau petugas meninggalkan rumah menuju embarkasi, selama dalam perjalanan ke tanah suci sampai kembali lagi ke rumah.

Sebenarnya, jelas Adi, konsep utama dari asuransi syariah adalah saling tolong menolong antara peserta. Yang sehat menolong yang sakit. Yang beruntung membantu saudaranya yang kurang beruntung.

“Mekanisme risk sharing ini sejalan dengan perintah Rasulullah SAW untuk saling membantu sesama muslim yang sedang ditimpa kemalangan,” terangnya.

Asuransi kini semakin terjangkau dengan hadirnya produk asuransi mikro. AASI sendiri, sedang dikembangkan produk asuransi mikro bernama SiBijak, kontribusi atau preminya hanya sebesar Rp50.000/tahun.

Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), jumlah tertanggung individu asuransi jiwa sampai kuartal kedua tahun ini mencapai 16,60 juta. Jumlah ini meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya 11,30 juta orang.

“Kenaikan signifikan 46,9 persen ini menunjukkan bahwa asuransi jiwa sudah merupakan suatu kebutuhan bagi seseorang untuk perlindungan atau proteksi diri,” ujarnya.

Data AAJI tentang kinerja asuransi jiwa di semester pertama 2015 menunjukkan pertumbuhan total pendapatan premi asuransi jiwa mencapai 26,6 persen. Atau meningkat dari Rp53,58 triliun di periode yang sama di 2014 menjadi sebesar Rp67,8 triliun.

Togar Pasaribu, Pjs. Direktur Eksekutif AAJI, mengaku meski pertumbuhan ekonomi melemah, namun premi asuransi jiwa justru meningkat. “Ini kontradiktif. Belum tentu pertumbuhan premi asuransi jiwa itu berbanding lurus dengan pertumbuhan perekonomian,” terangnya.

Karena dalam kondisi apapun, asuransi dibutuhkan oleh masyarakat, termasuk dalam kondisi perekonomian yang melambat seperti ini.

Ini bisa dilihat dari masalah kesehatan. Dalam kondisi perekonomian tumbuh tinggi maupun melemah seperti saat ini, orang yang sakit perlu berobat. “Sehingga asuransi kesehatan tetap diperlukan,” katanya.

(setiawan/sir)
Sumber: http://poskotanews.com/2015/09/22/perlu-asuransi-antispasi-resiko-tanpa-terduga/