Proyek PLTP layak diasuransikan?

11 Nov 2016, 15:01

Menurut Riki, sesudah memaparkan Pentingnya Asuransi dalam Pembangunan Pembangkit "Geothermal" di kliping berita sebelumnya, saat ini Riki memiliki pertanyaan, apakah proyek PLTP layak diasuransikan?

Pendapat Riki, sangat layak. Alasannya, pertama, dalam paparan teknis berdasarkan data yang terpublikasi, sekitar 300 sumur panas bumi di Indonesia terbukti 75 persen diantaranya sukses melakukan pengeboran sumur eksplorasi, dengan rata-rata produksi sekitar 7 MW.

Lain halnya dengan pengeboran hidrokarbon di Indonesia yang hanya mencapai 7 persen-10 persen sukses.

Kedua, dengan lebih banyaknya data, tentu pihak asuransi lebih mudah memahami struktur risiko eksplorasi panas bumi. Deskripsi proyek panas bumi yang diperlukan pihak asuransi dalam estimasi dari sumur yang akan di bor.

Deksripsi tersebut meliputi studi kelayakan geologi, interpretasi investigasi seismic, konsep pengembangan usaha, desain lokasi sumur-sumur, program stimulasi sumur apabila diperlukan.

Juga meliputi, rencana PLTP yang akan dipasang, seluruh perijinan, informasi kontraktor dan vendor yang bekerja sama, termasuk juga informasi direksi yang bertanggung jawab bersama tenaga akli independent yang dipercaya dalam membuat proposal.

Namun, masih terdapat tantangan dari penggunaan asuransi ini dalam eksplorasi geothermal.

Pertama, manfaat asuransi untuk pengeboran sumur eksplorasi maupun pengembangan panas bumi masih belum dikenal di Indonesia.

Kedua, eksplorasi merupakan tantangan utama dan terbesar dari risiko pemanfatan energi panas bumi, karena kegiatan ini adalah kunci dalam rantai bisnis.  Namun pembiayaan dan asuransi masih minim.

"Padahal, tidak seperti pengembangan energi fosil, pengembangan pemanfaatan energi terbarukan (panas bumi) semestinya lebih mudah mendapat pinjaman lunak dunia, seperti melalui mekanisme kerja sama negara maju untuk melakukan aktivitas pembangun proyek “Low Carbon, rendah emisi CO2” dan lain-lainnya," kata Riki, yang juga menjabat sebagai Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia.

Tantangan ketiga, pengesahan dari badan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan menjabarkan ‘Term and Condition’ bersama perhitungan teknis aktuaria sebagai dasar perhitungan premi asuransi.

Asumsi atas pengeboran sumur eksplorasi dan pengembangan pemanfaatan energi panas bumi mudah didapat dan tidak sulit dibuatkan formula untuk perhitungan teknis aktuaria, sebagaimana asuransi di sektor migas Indonesia.

Tantangan keempat, semua pihak harus memahami bahwa pengeboran panas bumi merupakan kegiatan yang tidak terlalu tinggi risikonya dibandingkan dengan pengeboran hidrokarbon (minyak dan gas).

Selain itu, lokasi sumur panas bumi letaknya selalu di daratan, dan bukan di lautan, sehingga dapat diyakinkan jaminan asuransi eksplorasi atas pinjaman dana geothermal pemerintah guna kegiatan eksplorasi atau pencarian sumur energi panas bumi.

Dengan demikian, dana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dapat dikembalikan (tidak hilang), dengan jangka waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Tantangan kelima, insentif untuk pengembangan pemanfaatan energi terbarukan seperti energi panas bumi yang bersih lingkungan perlu mendapat kebijakan insentif yang signifikan menarik dari pemerintah. Misalnya, melalui skema adanya asuransi yang telah berhasil dilakukan di beberapa negara.

"Tidak diragukan, asuransi risiko eksplorasi sebagai mitigasi risiko atas kegagalan pengeboran eksplorasi panas bumi, juga diperlukan sebagai mitigasi biaya untuk pendanaan proyek (project financing), dalam upaya pelaksanaan kegiatan pembangunan proyek ‘zero’ emisi CO2 di indonesia", pungkas Riki.

askrida | Sumber : bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/11/08/094612526/pentingnya.asuransi.dalam.pembangunan.pembangkit.geothermal