Realisasi asuransi pertanian di 2015 masih rendah

13 Jan 2016, 07:35

JAKARTA. Sejak diluncurkan pertengahan tahun lalu, asuransi pertanian rupanya belum maksimal dimanfaatkan oleh petani. Hal ini tercermin dari realisasi luas sawah yang dilindungi hanya 23% dari total target luas lahan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut, akhir tahun lalu realisasi lahan sawah yang terlindungi lewat asuransi pertanian hanya sebesar 234.000 hektar (ha). Padahal, target tahun lalu setidaknya 1 juta ha lahan sawah pertani bisa terlindungi. Sosialisasi rupanya menjadi kendala serapan asuransi pertanian yang masih rendah tersebut.

Firdaus Djaelani, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) mengakui, berjualan asuransi pertanian tidak mudah. Sekalipun pemerintah telah mensubdisi premi asuransi pertanian sebesar 80% dan sisanya dibayar petani. Tapi sedikit petani yang secara sadar untuk membeli premi.

"Petani merasa asuransi pertanian kalau dibeli akan rugi. Karena tidak akan langsung terasa manfaatnya. Meski disosialisasikan terus untuk bisa tergerak petani membeli asuransi pertanian. Harusnya pemerintah daerah (Pemda) juga berperan serta untuk mensosialisasikan ini," terang Firdaus.

Di sisi lain, Firdaus mengatakan, OJK akan lebih intens lagi membangun komunikasi dengan Pemda terkait asuransi pertanian. Sebab, katanya, tidak sedikit Pemda yang bersedia untuk mensubdisi premi yang harus dibayar petani untuk asuransi pertanian. Daerah mana saja yang bersedia mensubdisi lagi premi asuransi pertanian, Firdaus menolak menyebutnya. "Yang pasti di daerah-daerah sentra produksi padi," tandas Firdaus.

Skema pembayaran premi asuransi pertanian berasal dari dana APBN-P 2015 sebesar Rp 150 miliar. Dalam premi APBN ini, pemerintah menanggung 80% pembayaran dan 20% ditanggung petani.


Sumber: http://keuangan.kontan.co.id/news/realisasi-asuransi-pertanian-di-2015-masih-rendah