Siap Penuhi Ketentuan, Asuransi Umum Lebih Pilih SBN Bertenor Pendek

05 Mar 2016, 07:35

Jakarta– Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyatakan perusahaan asuransi umum siap menjalankan kewajiban dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk meningkatkan porsi investasi di surat berharga negara (SBN). AAUI menegaskan instrumen yang dipilih cenderung SBN bertenor pendek guna menyesuaikan dengan karakter dana kelolaan.

Direktur Eksekutif AAUI Julian Noor mengatakan, ke depan suku bunga deposito di perbankan akan mulai menurun. Hal tersebut membuat perusahaan asuransi umum berpotensi mengalihkan (switching) sejumlah portofolio dari deposito ke instrumen lain guna menjaga likuiditas. Namun switching dana investasi dari deposito ke instrumen lain tidak akan terlalu signifikan.

“Sebab, perusahaan asuransi perlu menjaga dan mempertahankan likuiditas. Mengenai switching, instrumen SBN memang bisa menjadi jawaban bagi kami (industri asuransi umum). Kendati, perusahaan asuransi umum akan lebih prefer dengan SBN bertenor pendek, agar dapat memenuhi kewajiban jangka pendek,” ujar Julian seperti dikutip dari Investor Daily, Kamis (3/3).

Pada kesempatan sama Ketua Umum AAUI Yasril Y Rasyid menuturkan, kewajiban peningkatan investasi di SBN dapat membuat surat utang negara lebih banyak dimiliki investor dalam negeri. Keadaan seperti itu baik karena membuat sumber pendanaan di Indonesia lebih berkelanjutan dan tahan dari gangguan pemindahan portofolio investasi dari investor asing ke luar negeri (capital out flow).

Kendati, setiap perusahaan asuransi juga berkewajiban menjaga likuiditas untuk mengantisipasi klaim yang masuk. Di samping itu, terkadang perusahaan asuransi juga harus membayar lebih dahulu atas klaim yang sebetulnya sudah direasuransikan sebelumnya perusahaan reasuransi membayar klaim reasuransi. “Jadi sekalipun ada kewajiban untuk meningkatkan ataupun potensi penurunan suku bunga, kami akan tetap mempertahankan jumlah tertentu untuk diinvestasikan di deposito bank,” jelas dia.

Kemudian, lanjut Yasril, sekalipun siap memenuhi ketentuan, AAUI juga mempertanyakan ketersedian SBN di Indonesia yang dapat dibeli pelaku industri. Bukan hanya asuransi umum, tapi industri keuangan nonbank (IKNB) juga didorong untuk meningkatkan berinvestasi oleh OJK. Berdasarkan Peraturan OJK Nomor 1/POJK.05/2016, perusahaan asuransi umum wajib menempatkan investasi di SBN minimal 20 persen dari dana investasi.

Adapun, peningkatan SBN juga wajib diberlakukan dengan tahapan dua tahun. Sepanjang tahun ini, untuk industri asuransi umum hanya wajib memenuhi porsi investasi sebesar 10 persen di SBN. Terkait ketentuan peningkatan investasi di SBN, Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Nonbank (IKNB) 1A Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Yusman menegaskan, semua perusahaan asuransi umum memenuhi hal tersebut.

Berdasarkan ikhtisar keuangan industri asuransi umum dan reasuransi umum, total investasi industri ini di deposito berjangka dan sertifikat deposito mencapai Rp 31,71 triliun pada akhir 2015. Sedangkan, komposisi investasi perusahaan asuransi umum dan reasuransi umum hanya sebesar Rp 2,79 triliun di instrumen surat berharga yang diterbitkan oleh negara RI.

Adapun, OJK tengah berencana menetapkan batas atas suku bunga deposito bank yang termasuk bank umum kegiatan usaha (BUKU) III dengan ketentuan BI rate ditambah 100 basis poin (Bps) dan bagi BUKU IV BI rate ditambah 75 Bps.

Sumber: http://www.beritasatu.com/ekonomi/352777-siap-penuhi-ketentuan-asuransi-umum-lebih-pilih-sbn-bertenor-pendek.html