Tahun Ini, 1.368 Motor Dikredit

21 Aug 2017, 14:26

Di era milenial ini banyak pekerjaan yang membutuhkan mobilitas tinggi, yang mana mengharuskan seseorang untuk cepat berpindah dari satu tempat, ke tempat lainnya. Sehingga seringkali kendaraan roda dua menjadi solusi alternatif untuk mendukung aktivitas sehari-hari.

Karena kebutuhan itulah tak jarang masyarakat rela menggunakan jalur kredit, demi mendapatkan satu unit sepeda motor. Sehingga ini menjadi peluang besar, bagi para leasing untuk menawarkan berbagai macam promosi.

Berdasarkan data yang dihimpun Radar Tarakan, pada dua leasing tahun 2016, tercatat pengajuan kredit di perusahaan pembiayan atau leasing, mencapai 2.867 unit kendaraan, berbeda jauh jika dibandingkan dengan pembelian kendaraan secara tunai, yakni 1.865 unit kendaraan.

Sementara di tahun 2017, sejak Januari hingga Juli, tercatat dengan jumlah 1.368 pengajuan kredit, sementara pembelian secara tunai hanya berkisar 588 unit kendaraan. Jumlah ini, tentunya belum termasuk dengan pengajuan kredit di tempat lain, seperti koperasi.

“Untuk mengatakan kendaraan didominasi oleh kredit itu benar adanya, Namun, untuk tahun 2017 ini, bisa dibilang penjualan di pasaran sedang turun, pengajuan kredit juga masih sedikit, namun kami optimis bisa memenuhi target penjualan, dan bisa menaikkan penjualan,” ungkap Muhammad Azhar, Branch head salah satu perusahaan yang menjual kendaraan bermotor secara kredit.

Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan perusahaan pembiayaan, membeli kendaraan secara kredit ternyata juga menyisakan ‘derita’. Tak sedikit konsumen yang justru mengeluh, karena dana yang dikeluarkan lebih besar bahkan bisa dua kali lipat dari harga kendaraan dibeli secara cash. Lanjut Azhar, banyaknya pengajuan kredit kendaraan roda dua tak lain karena adanya, beberapa proses yang menggunakan biaya tambahan dan akhirnya dibebankan kepada para konsumen.

“Di antaranya, karena adanya biaya asuransi jiwa, asuransi kendaraan, lalu bunga, dan biaya administrasi. Untuk berapa biaya tambahan tergantung kendaraan. Namun simple-nya, asuransi menjadi paling wajib karena kendaraan yang dikredit belum sepenuhnya milik konsumen, jadi masih ada tanggung jawab leasing,” kata Azhar.

Azhar mencontohkan, jika sepeda motor seharga Rp 20 juta, dibeli secara kredit, setidaknya terdapat biaya asuransi sebesar Rp200-300 ribu per tahun. Maka, biaya Rp 200-300 ribu pertahun bisa dibagi selama 12 bulan, lalu dikalikan jumlah tenor.

Hal senada diungkapkan, Head Of Branch Sales Service And Distribution, Budi Rahmadi membenarkan, jika dalam transaksi pembelian menggunakan sistem kredit, memang konsumen dikenakan beberapa biaya tambahan selain uang muka, atau down payment (DP).

“Biasanya biaya tambahan berbeda-beda setiap leasing. Terkadang ada juga biaya yang dihilangkan jika di lapangan ada event atau pameran (adanya promosi),” kata Budi.

Sementara itu, dikonfirmasi terkait jumlah kendaraan yang saat ini sedang mengalami peningkatan, Kasi Statistik Distribusi, Badan Pusat Statistik, Yanuar Dwi Cristyawan, menegaskan jumlah kendaraan di Tahun 2015 saja, sudah mencapai 69.356 unit kendaraan memadati Kota Tarakan.

“Dari data yang ada, tahun 2010 hingga tahun 2015 saja, sudah mengalami peningkatan kurang lebih 20 ribu unit kendaraan roda dua. Kenaikan ini terus menerus naik setiap tahunnya,” ungkap Yanuar.

Kenaikan ini disebabkan karena pertumbuhan ekonomi, bila mendekati dengan indikator makro, data kemiskinan bila dilihat juga memiliki tren menurun.

“Dari data tahun 2016 terakhir, pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan yakni di kisar 5,80 persen. Sementara untuk angka pengangguran sampai tahun 2015, saja sudah mengalami penurunan, otomatis kesemuanya menunjukkan kesejahteraan masyarakat,”menurut Yanuar.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan, Hamid, saat dikonfirmasi persoalan kenaikan kendaraan yang meningkat signifikan, menurutnya hal tersebut merupakan hal yang lumrah dan menandakan warga Tarakan mengalami kesejahteraan.

Sementara untuk mengatasi kemacetan-kemacetan yang ditimbulkan oleh kendaraan tersebut, Hamid mengatakan, kebijakan kepala daerah saat ini menggunakan sistem perkotaan, yang pertama untuk mengurangi kemacetan adalah alternatif menggunakan Bus Rapid Trans (BRT) lalu taksi argo dan taksi bandara. “Tinggal warga sendiri yang melakukan pilihan, untuk mengurangi kemacetan,”jelasnya.

Dan saat ini, pemerintah sedang melakukan perbaikan sarana jalanan agar lebih baik, untuk membantu perjalanan transportasi yang mengalami peningkatan.

“Sekarang jalan-jalan sudah di tambah, dan diperlebar. Itu semua cara pemerintah untuk memberikan, pelayanan kepada masyarakat lebih baik,”bebernya.

LEBIH MEMILIH MEMBELI KENDARAAN KREDIT

Sementara itu, Radar Tarakan mencoba mewancarai salah seorang pelaku usaha yang lebih memilih jalur kredit daripada harus membeli kendaran cash atau tunai. Rudi Hartono (35) mengatakan, dia sudah dua kali melakukan pengajuan kendaraan roda dua di salah satu perusahaan leasing di Bumi Paguntaka. Bukan hanya sekedar gaya-gayaan, melainkan kendaraan yang ia kredit dipergunakan untuk menjajakan dagangan, demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

“Awal mula saya kredit tahun 2009 dengan mengambil tempo kredit setahun. Dan pengajuan kredit yang saya ambil itu sudah saya perhitungkan juga. Baik dari segi biaya bunga, pembayaran dan lainnya. Sehingga saya mampu menutupi dengan hasil dagangan yang saya peroleh,” jelas Rudi sapaan akrabnya, kepada Radar Tarakan.

Tak jarang juga, banyak masyarakat yang beranggapan dengan membeli kendaran secara tunai, itu lebih bagus dan membanggakan. Namun, aggapan itu menurut Rudi keliru. Sebab, itu akan langsung menghabiskan sejumlah uang hanya untuk membeli satu motor saja. Padahal, jika jeli bisa saja uang tersebut diputar untuk dijadikan modal usaha.

“Tak ada uang yang tersisa. Kalaupun ada, sisanya juga sedikit karena sudah membeli motor secara cash,” ujar pria asal Yogyakarta ini.

Lebih lanjut Rudi menjelaskan, beda cerita jika seseorang membeli motor secara kredit. Uang yang dikeluarkan diawal hanya untuk membayar down payment (DP) atau uang muka sehingga sisanya dimanfaatkan untuk kebutuhan lainnya, seperti memperbesar usaha.

“Menurut saya yah, misalkan nih harga motor baru Rp 15 juta dengan DP Rp 5 juta, berarti kita punya sisa dana Rp 10 juta, untuk modal usaha. Itu bisa kita putar untuk membuka usaha,” jelasnya.

Sehingga, pelaku kredit terpacu untuk memutar dan mengolah sebaik mungkin modal tersebut, agar omzet yang dihasilkan bisa digunakan untuk, membayar cicilan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Buat bayar cicilan motor saja masih sisa. Dan sisanya terserah mau kita gunakan untuk apa. Bisa untuk diinvestasikan lagi ke usaha yang baru, membayar premi asuransi, atau untuk mencicil utang yang lain,” tuturnya.

Dengan menggunakan jalur kredit, saat ini Rudi telah memilik dua unit kendaraan bermotor, sembari bertahan dalam bisnis kuliner yang digelutinya kurang lebih 9 tahun. Baginya yang terpenting saat ingin melakukan cicilan, terlebih dulu harus memperhitungkan dan mempersiapkan sejumlah uang muka dan cicilan selanjutnya.

“Kalau bisa silahkan lakukan simulasi kredit, agar bisa mengetahui besaran cicilan dan kemampuan bayar terhadap cicilan tersebut. Kemudian pertimbangkan kemampuan bayar setiap bulannya, maksimal hanya sebesar 40 persen dari penghasilan yang dimiliki. Jangan mengambil sejumlah cicilan yang besar di luar kemampuan, hal seperti ini hanya akan mengganggu pos pengeluaran rutin atau pokok di dalam keuangan,” pesannya.

Berbeda halnya dengan salah seorang warga Pantai Amal, Andi Sofian (26) yang bekerja sebagai nelayan rumput laut mengaku, dia lebih senang membeli kendaraan secara tunai. Karena dia tidak ingin berurusan dengan pihak bank dan leasing.

 “Sampai saat ini, saya tidak pernah mengajukan kredit kendaraan, karena takut tak bisa bayar yang akhirnya akan ribet. Tapi, kalau kredit barang-barang seperti handphone (HP) itu ia, karena harganya tidak terlalu mahal,” tutur Andi.

Bukan hanya tidak ingin berurusan dengan bank, Andi juga tidak ingin dikenakan dengan biaya-biaya atau bunga yang tinggi sehingga dia lebih memilih membeli kendaraan secara tunai. “Saya sendiri kan tidak ada bisnis. Yah, hanya pekerja biasa, yang mengumpulkan rumput laut untuk dijual, dan pendapatan juga tak tentu. Kalau mau beli motor baru dan kredit saya masih takut tidak bisa bayar,” jelasnya. (eru/nri)

Sumber : kaltara.prokal.co/read/news/13292-tahun-ini-1368-motor-dikredit