TAJUK BISNIS: Benahi Industri Asurasni di Era MEA

26 Jan 2016, 16:40

Bisnis.com, JAKARTA- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam pertemuan dengan para pelaku industri jasa keuangan pekan lalu menegaskan akan terus mendorong industri tersebut meningkatkan daya saing khususnya memasuki era Masyarat Ekonomi Asean (MEA).

Tanpa hingar bingar, kita sudah hampir 3 pekan memasuki era MEA, yang memiliki tujuan menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang ditandai dengan aliran barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan perpindahan barang modal secara lebih bebas.

Sejumlah pihak menyebutkan banyak sektor bisnis di Indonesia yang sebenarnya belum siap untuk bersaing dalam era MEA. Salah satunya adalah sektor industri keuangan, yakni jasa asuransi.

Pemberlakuan MEA secara teori membuat pasar asuransi di seluruh negara Asean menjadi terbuka. Perusahaan asuransi nasional memiliki peluang memanfaatkan pasar tersebut. Pun, perusahaan asuransi asing dari negara Asean juga bebas masuk ke pasar Indonesia.

Penelusuran yang dilakukan koran ini menunjukkan, banyak perusahaan asuransi nasional yang belum berpikir untuk memanfaatkan momen MEA dengan masuk ke pasar negara tetangga.

Wajar saja mengingat pasar domestik yang dipandang masih sangat empuk. Indonesia tetap diyakini menjadi menjadi pasar terbesar dan target utama bagi pelaku industri asuransi di kawasan regional Asia Tenggara. Jumlah penduduk terbesar dengan rasio penetrasi asuransi yang masih terbilang minim menjadi tolok ukurnya.

OJK menyebutkan, per September 2015 tingkat penetrasi industri asuransi konvensional di Indonesia baru mencapai 2,51% dengan densitas atau premi per
kapita sebesar Rp1,1 juta. Adapun, tingkat penetrasi dan densitas industri asuransi syariah baru mencapai 0,08% dan premi Rp40.000.

Gambaran itu jelas masih jauh tertinggal dari negara Asean lainnya, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Penetrasi industri asuransi di Thailand, Malaysia dan Singapura sudah bekisar 4,5%–6,5%. Dari sisi aset pun, rasio industri asuransi nasional terhadap PDB baru 7% sementara di Thailand dan Malaysia mencapai tiga kali lipat.

Oleh karena hampir dapat dipastikan industri asuransi nasional lebih memilih menggarap pasar Indonesia, ketimbang repot-repot masuk ke pasar negara
tetangga di kawasan Asean.

Namun demikian, bukan berarti industri asuransi Indonesia cukup berdiam diri di era MEA ini. Keterbukaan pasar Asean itu juga berarti industri asuransi dari negara lain bebas masuk ke Indonesia.

Dalam 5 tahun terakhir, sejumlah korporasi Jepang, Korea Selatan, Malaysia dan Singapura beramai-ramai masuk Indonesia. Tidak ketinggalan pula sejumlah perusahaan asuransi dari Eropa dan Amerika juga turut aktif masuk.

Gencarnya korporasi asing itu ibarat semut mencari gula. Dan gulanya ada pada besarnya potensi pasar asuransi di Indonesia, baik asuransi umum dan terlebih asuransi jiwa.

Jadi sudah seharusnya bila para pelaku industri nasional berbenah supaya tetap dapat menikmati potensi pasar asuransi di Indonesia yang demikian menggiurkan. Bila tidak berbenah, bisa jadi di kemudian hari asuransi nasional hanya menjadi penonton di rumah sendiri.

Saat ini masih ada kesempatan bila industri asuransi nasional mau berbenah, mengingat OJK belum membuka sepenuhnya pasar asuransi Indonesia. Hingga saat ini, OJK baru mengizinkan tiga lini produk asuransi umum, yakni asuransi penerbangan (aviaton), rangka kapal (marine hull) dan transportasi lintas negara.

Pembukaan pasar ketiga produk asuransi tersebut merupakan kesepakatan awal regulator keuangan di Asean. Untungnya, hingga kini belum ada lagi produk asuransi lain yang bisa dijual secara lintas negara Asean. Implementasi lebih rinci soal pasar bebas sektor asuransi pun belum sepenuhnya jelas.

Oleh karena itu, hal ini justru menjadi momentum bagi asuransi Indonesia untuk melakukan pembenahan sehingga pada saatnya pasar asuransi Asean benar-benar
bebas persaingannya, kita dapat bersaing dan tidak menjadi penonton di rumah sendiri.

Salah satu hal yang mesti segera dibenahi soal kecukupan modal. Memang mayoritas perusahaan sudah memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan regulator. Hanya apakah itu sudah cukup bila harus bersaing di tingkat Asean? Demikian pula soal standar kerja kompetensi di bidang asuransi perlu segera di sesuaikan dengan
kebutuhan penyelenggaraan MEA.

 

Sumber: http://koran.bisnis.com/read/20160119/245/510794/tajuk-bisnis-benahi-industri-asuransi-di-era-mea