TANPA SINERGI

13 Feb 2019, 14:13

Mari rehat sejenak. Kita nikmati dulu sajian ringan berikut :

Ide dasarnya adalah seputar Sinergi. Namun karena untuk hal ini saya yakin Anda sudah cukup banyak referensi, dan demi menjaga mood Anda agar tidak bosan, mari kita ambil sisi cerita yang berseberangan, menjadi “Tanpa Sinergi”.

--------------

Alkisah tersebutlah tiga orang pimpinan sebuah perusahaan. Saat itu mereka tengah sama-sama berfikir (bukan berfikir bersama-sama). Mereka berfikir sendiri-sendiri, tentang apa yang selayaknya mereka wariskan selepas ketiganya meninggalkan jabatan di kantor itu. Tentang apa yang akan menjadi monumen mereka, tentang apa yang akan dikenang orang-orang dari mereka. Tentang diri mereka masing-masing.

Yang  satu memikirkan sesuatu yang amat berharga, sebuah esensi yang mendasari denyut nadi perusahaan.

Yang kedua berfikir tentang isyarat yang akan membuat seluruh karyawan menghargai waktu. Waktu bekerja, waktu bersama, waktu bersenda, hingga waktu berpisah.

Yang terakhir berfikir bahwa ia perlu membelikan sebuah jam klasik untuk diletakkan di ruang lalu lalang.

Waktu berlalu. Tepat malam hari sebelum seremonial perpisahan, di kantor perusahaan itu, security shift malam didatangi hampir bersamaan oleh tiga utusan pembawa box besar yang berisikan ‘kejutan’. Ada tiga kotak berbeda, namun ternyata dengan pesan yang hampir sama, agar ia meletakkan  “warisan yang mengejutkan” itu di ruang lalu lalang.

Ketika membuka ketiga kotak, tidak disangka justru ialah yang pertama kali harus terkejut. Karena isi ketiga legacy itu ternyata sama, sebuah jam almari yang (tentu saja) mahal dan .. makan tempat.

Cukup lama sang security berkompromi di hati, tentang jam milik siapa yang akan ditempatkan di sisi mana. Ia khawatir akan salah memposisikan masing-masingnya, karena ruang itu menjadi tidak lagi cukup luas, bahkan jika hanya untuk lalu lalang.

Kekhawatirannya seketika dihentikan oleh dentang keras dari salah satu jam. Sepuluh kali dentangan itu terdengar nyaring, makin lama makin indah. Sekitar empat puluh detik kemudian ia lumayan terhanyut, malah berubah seperti mengagumi tepat ketika ketukan terakhir.

Hening lagi, ada bingung lagi. Sebelum sebuah pertanyaan cukup cerdas meledak di kepalanya. Seketika ia mencari jawaban dengan mengamati detail per detail. Kejelian itu malah mengembalikan khawatir.

Bukan karena gemeretak bunyi AC yang sudah sejak lama rusak. Atau karena dua buah lampu ruangan yang memang sudah layak ganti. Bukan. Tapi karena dua jam yang lain ternyata baru akan berdentang sekitar sepuluh dan lima belas menit di depan. Seperti yang ia duga, ketiga jam itu menunjukkan waktu yang berbeda.

Buat dia, situasi ini sudah terasa kacau. Ia tidak punya banyak kontak untuk diharapkan sekadar saran tata letak jam, lebih-lebih sudah malam begini. Sedangkan untuk menangani sendiri, ia memang miskin seni. Apalagi keahlian mengutak atik jam antik, biar seragam (lagi pula versi jam siapa?). Sempurna! Padahal, sesuai rencana, acara perpisahan akan dimulai pagi-pagi sekali, tepat jam tujuh.

--------------

Lupakan kekacauan situasi Tanpa-Sinergi di atas! Kita kembali kepada Ide dasarnya, “Sinergi”! Tapi, Lagi-lagi, kita tidak akan membahas ini dengan kacamata Ilmu Manajemen. Selain terlalu rumit buat Saya, toh Saya pikir Anda sudah lebih faham tentang sinergi yang sebut saja salah satu pengertiannya berbunyi :

Membangun dan memastikan hubungan kerjasama yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan, untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkualitas.

Bahkan mungkin saja, menyambung ini, Anda sudah memiliki deretan ide berikut penjelasan-penjelasan akademis berbobot lain yang akan membuat tulisan ini lebih berkelas. Tapi, nanti dulu! Spesialisasi Saya kan hanya dalam bentuk tulisan ringan. Lagi pula Anda tentu tidak berfikir Saya akan membiarkan Anda membajak tulisan Saya? Tentu Saja tidak! Tulisan lebih berbobot akan mengaburkan kualitas asli seseorang. Dan ingat! Itu akan menambah beban hidupnya. Tidak! Saya tidak akan membiarkan Anda. Langkahi dulu mistar yang lebih tinggi dari 6.16 meter! (Dan Saya akan bertepuk tangan sangat keras, karena Anda memecahkan rekor dunia lompat galah).

Kembali lagi kepada ‘Sinergi’. Mari kita membahasnya, dalam istilah yang lebih ringan. Ada usul?

Sayang sekali! Kali ini Anda lebih banyak diam (tentu saja lewat format molog seperti ini, penulis tidak bisa –secara instan- menerima respon pembacanya). Jadi kita kembali saja kepada pikiran-pikiran saya yang sederhana. Meskipun tidak terlalu bersesuaian, atau malah membuka ruang debat, bolehkan dulu kenekatan saya untuk ‘memadankan’- ‘Sinergi’ menjadi ‘Niat Baik’ (?).

--------------

Kita tentu sepakat bahwa apa yang akan kita hasilkan, bermanfaat atau tidaknya, ditentukan  dari alat ukur yang kita patok sedari awal. Dalam istilah lain ia disebut ‘niat’. Semakin jelas kita ‘mewujudkan’ niat itu, semakin gampang kita membandingkannya dengan hasil yang nanti akan diperoleh. Dari sana kita dapat mengukur tingkat keberhasilannya.

Dengan cara ini, maka orang yang berbuat sesuatu karena satu tekad bulat (misalnya ikhlas ingin membantu/meringankan kedua orang tua), tentu akan lebih mudah mencapai goal ketimbang orang yang memiliki niatan yang lebih banyak : ingin dihargai manusia (bayangkan saja berapa juta orang yang musti ia uji penghargaannya?), ingin dikenang, ingin dipuji, ingin dibalas dan lain-lain.

Jika ditambahkan kata ‘baik’, menjadi ‘niat baik’, maka perlu kita tambahkan satu lagi alat ukur, yaitu berupa ‘radius kebaikan’ dimaksud. Apakah jangkauannya hanya sebatas persepsi diri sendiri, keluarga, kelompok sosial atau suku bangsa tertentu, atau jauh lebih luas dari itu. Semakin luas radius kebaikan yang diniatkan, semakin tinggi pula kemungkinan kita melibatkan pihak lain -yang beririsan dengan kebaikan itu- untuk bersama-sama mewujudkannya. Semakin banyak pihak yang terlibat secara tulus, semakin besar pula energi yang dimiliki untuk berhasil.

Bukankah ada ungkapan bahwa “ketulusan dan kelurusan akan mengundang campur tangan Tuhan”?

--------------

Terakhir, menutup ini. Bolehlah kita susun ulang sebuah frase yang bernama ‘Niat Baik’. Kita bersihkan, kita tuluskan dan kita beri penguatan. Frase ini sepertinya terlepas dari ide dasar tulisan (Sinergi). Tapi sebenarnya tidak! Ia justru adalah pembahasan awal yang amat penting dan tersambung, yang harus kita pastikan keberadaannya, sebelum kita mulai membicarakan ‘Sinergi’. (Iji)