Travelling, Gaya Hidup Baru yang Perlu Antisipasi Perlindungan Diri

15 Mar 2019, 09:11

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tahun 2018 berada di kisaran 5.1% namun daya beli masyarakat Indonesia yang sebagian besar merupakan golongan muda, terus meningkat.

Konsumsi masyarakat juga lebih besar, bahkan pengeluaran untuk wisata seperti outbound travel juga lebih tinggi di banding sebelumnya. Menurut data Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, selama tahun 2016 jumlah warga negara Indonesia yang ke luar negeri mencapai 8.4 juta orang dan melonjak di tahun 2017 mencapai 9.1 juta orang.

Data dari Mastercard Future of Outbound Travel in Asia Pacific (2016-2021), Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan outbound travel atau wisata ke luar negeri terbesar di Asia dengan pertumbuhan 8,6% per tahun. Indonesia berada di posisi setelah Myanmar yang pertumbuhannya 10,6%, dan Vietnam 9,5%.

Berbagai destinasi wisata di Asia juga masih menjadi tujuan favorit dari peningkatan angka outbound travel Indonesia ini. Japan National Tourism Organization bahkan menyebutkan jika pada tahun 2017, jumlah penduduk Indonesia yang bepergian ke Jepang mencapai 352.330 orang, didominasi kunjungan untuk berwisata sebanyak 291.532 orang.

Sementara, dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah kunjungan wisatawan Indonesia ke Jepang meningkat hampir delapan kali lipat dibandingkan angka pada tahun 2007 yang hanya sebanyak 38.430 orang.

Perkembangan teknologi menjadi kunci dari pertumbuhan outbound travel di Asia, khususnya Indonesia. Dari teknologi, harga layanan transportasi semakin terjangkau dengan kehadiran pesawat dengan ukuran yang lebih besar dan efisien.

Selain itu, perkembangan internet yang pesat telah mendorong pertumbuhan outbound travel, terutama di kalangan generasi milenial yang melek teknologi.

Kecenderungan orang Indonesia jaman sekarang bepergian untuk bersenang-senang juga bisa dilihat dari catatan mesin pencari Google. Dimana penelusuran terkait dengan perjalanan (travel) di Indonesia meningkat sebanyak 30% sejak 2017.

Dari data rekam jejak yang dimiliki perusahan asal California, Amerika Serikat itu, orang Indonesia memiliki kecenderungan melakukan riset secara online ketika ingin mengetahui atau menyelesaikan suatu hal. Perilaku ini ditangkap Google, yang kemudian dianalisis, seperti apa trend pencarian terkait travel industry selama setahun terakhir.

Menurut hasil riset tim Google, konsumen Indonesia memiliki waktu mempertimbangkan rata-rata 13 hari sebelum akhirnya memilih kamar, tapi keputusan pembelian dilakukan pada last minute alias mendekti waktu perjalanan. Sebanyak 24% pemesanan hotel dilakukan pada menit terakhir selama off season. Sedangkan pada high season angka pemesanan dilast minute ini meningkat jadi 32%.

Yang mengejutkan, aktivitas perjalanan wisata, tak hanya dilakukan masyarakat di kota-kota besar saja. Google menemukan justru penelusuran terkait perjalanan wisata tersebut lebih banyak berasal dari kota-kota sekunder di Indonesia, dengan pertumbuhan sekitar 48%, dibanding dari kota-kota besar seperti Jakarta yang hanya tumbuh sebanyak 18%.

Di sisi lain, saat ini, juga sudah cukup banyak wisatawan yang menyadari betapa pentingnya memiliki asuransi saat melakukan perjalanan. Karena asuransi merupakan salah satu solusi yang tepat jika ingin melindungi diri dari segi materil atas kemungkinan risiko buruk yang terjadi saat bepergian.

Ada banyak sekali risiko-risiko yang bisa saja terjadi saat liburan, misalnya saja alat transportasi yang terlambat, pembatalan tiket, dan lain sebagainya. Risiko yang paling ekstrem adalah ketika transportasi yang digunakan selama perjalanan mengalami kecelakaan. Liburan yang seharusnya menjadi kegiatan yang menyenangkan justru berubah menjadi malapetaka.

Hal inilah yang membuat banyak orang tidak bisa menikmati liburannya dengan lebih bebas dan leluasa. Nah dengan adanya asuransi perjalanan online, setidaknya tidak perlu khawatir dengan kendala finansial ketika risiko-risiko tersebut terjadi.

Selain risiko kecelakaan, risiko yang bisa saja terjadi selama perjalanan adalah kehilangan tas koper baik dicuri atau ketinggalan, pesawat delay, biro perjalanan membatalkan perjalanan, dan masih banyak yang lainnya.

Semua orang memang tidak ingin jika liburan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari rusak karena hal-hal yang seharusnya tidak terjadi. Perjalanan ke mana pun baik di dalam maupun luar negeri pasti memiliki risiko. Tinggal manusianya sajalah yang harus lebih bersiap diri dalam menangani dan mengantisipasi risiko tersebut agar tidak terlalu membebani keuangan.

Sumber : gatra.com/rubrik/hiburan/gaya-hidup/390846-Travelling-Gaya-Hidup-Baru-yang-Perlu-Antisipasi-Perlindungan-Diri