Upaya Klaim Harta Benda yang Rusak Akibat Gempa Bumi

Upaya Klaim Harta Benda yang Rusak Akibat Gempa Bumi

12 Aug 2019, 15:32
Upaya Klaim Harta Benda yang Rusak Akibat Gempa Bumi

Gempa bumi mengguncang Banten dan sekitarnya Jumat (2/8) malam. Ribuan orang luka-luka dan ratusan bangunan rusak akibat bencana itu.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan mayoritas bangunan yang rusak adalah rumah warga. Sisanya berupa rumah sakit, kantor desa, dan masjid.

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyatakan belum mendapatkan laporan dari pelaku usaha terkait jumlah klaim yang diajukan pemegang polis atas kerusakan sejumlah bangunan akibat gempa Jumat malam.

"Sejauh ini pihak asuransi belum menerima laporan kerugian masyarakat," ucap Direktur Eksekutif AAUI Dody AS Dalimunthe, Sabtu (3/8).

Ia menyatakan seluruh pemegang polis asuransi gempa bumi bisa langsung mengklaim kepada penerbit polis jika objek yang diasuransikan rusak akibat gempa. Setelah itu, perusahaan asuransi akan langsung mengecek ke lapangan untuk memastikan apakah objek yang diadukan oleh nasabah memang rusak akibat gempa.

"Setelah terbukti memang rusak karena gempa, lalu perusahaan asuransi akan menghitung nilai pertanggungan yang akan dibayar," ucap Dody.

Menurutnya, nilai yang ditanggung oleh perusahaan asuransi belum tentu 100 persen dari total kerusakan yang terjadi. Biasanya perusahaan hanya akan mengganti sebagian saja.

"Bila sudah ada hitungannya maka perusahaan akan menyampaikan ke pemegang polis, kalau dua pihak sudah sepakat maka dilanjutkan ke proses pembayaran klaim," terangnya.

Dalam aturannya, pencairan klaim maksimal selesai satu bulan setelah pemegang polis dan perusahaan asuransi sepakat dengan jumlah nilai pertanggungan yang akan dibayarkan. Namun, pada praktiknya, pemegang polis sudah bisa mendapatkan uang ganti rugi dari perusahaan asuransi satu minggu setelah kesepakatan.

"Jadi proses pencairannya tidak lama juga sebenarnya," imbuh Dody.

Namun, perlu dicatat bahwa asuransi gempa bumi tak serta merta menjadi satu paket dengan asuransi properti. Pemegang polis harus membayar premi tambahan di luar properti untuk mendapatkan fasilitas asuransi gempa bumi.

"Asuransi gempa ini standarnya harus menggunakan Polis Asuransi Standar Gempa Bumi Indonesia (PSAGBI). Kalau tidak membayar premi ini, ya properti yang rusak karena gempa tidak mendapatkan pengganti dari perusahaan asuransi," jelas Dody.

Untuk membaca kelanjutanya silahkan membaca artikel yang berjudul "Klaim Harta Benda Akibat Gempa Bumi"

Sumber : cnnindonesia.com/ekonomi/20190803161856-78-418106/upaya-klaim-harta-benda-yang-rusak-akibat-gempa-bumi