Wimboh klaim fundamental ekonomi Indonesia kuat

02 Aug 2018, 08:37

Indonesia optimistis bisa menghadapi gejolak di pasar keuangan yang bersifat jangka pendek ini Tekanan pada pasar keuangan yang terjadi akhir-akhir ini hanya merupakan fenomena temporer sebagai akibat dari rebalancing portofolio dari global investor.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, menyampaikan, fundamental ekonomi Indonesia kuat di hadapan anggota forum "Investor Update 2018" yang di selenggarakan di London. Apalagi OJK bersama dengan Bank Indonesia dan Pemerintah telah berkoordinasi untuk mengambil berbagai kebijakan dalam koridor kewenangan masing-masing untuk meredam gejolak ini.

Indonesia optimistis bisa menghadapi gejolak di pasar keuangan yang bersifat jangka pendek ini. Terlebih, OJK memiliki sejumlah program prioritas. Sebagai upaya mendukung program strategis Pemerintah dalam pembangunan infrastruktur di berbagai daerah dengan berbagai inisiatif pengembangan di pasar modal.

“Pembangunan infrastruktur menjadi agenda prioritas utama bagi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi pengangguran, meningkatkan konektivitas, dan memicu kegiatan ekonomi di daerah sekitarnya,” ujarnya seperti dikutip dalam siaran pers, Selasa (24/7).

Dalam upaya mendukung pembiayaan pembangunan infrastruktur ini, pengembangan pasar modal menjadi penting sebagai penyedia alternatif pembiayaan jangka panjang.

Pada kesempatan itu, Wimboh juga menjelaskan beberapa alternatif program yang didorong OJK. Diantaranya, mengembangkan variabilitas instrumen pembiayaan pasar modal seperti sekuritisasi, obligasi perpetual, greenbonds, obligasi daerah, dan blended finance.

Selain itu, menyederhanakan proses penerbitan di pasar modal dan menerapkan beberapa kebijakan yang mendukung seperti pengembangan instrumen dan pasar hedging dan juga berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan terkait insentif pajak bagi produk pasar modal. Juga memperluas basis investor domestik. Sekaligus memperkuat peran lembaga keuangan non bank dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur termasuk di dalamnya melalui pasar modal.

Di tengah sentimen yang mewarnai pasar keuangan domestik, risiko LJK (risiko kredit, pasar, dan likuiditas) masih terjaga pada level yang manageable.

Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankan tercatat sebesar 2,79% sejak April 2018 dan ‎rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 3,12% meningkat 0,11% dari April 2018.

Sementara itu, permodalan LJK juga terjaga robust dengan CAR perbankan sebesar 22,45% serta RBC asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 319% dan 442%.

OJK akan terus memantau dinamika perekonomian global dan domestik, khususnya terkait laju kenaikan FFR, tren kenaikan suku bunga, dan perkembangan negosiasi dagang AS-Tiongkok.

Sumber : alinea.id/bisnis/wimboh-klaim-fundamental-ekonomi-indonesia-kuat-b1U279cGJ